Jakarta, 22 September 2026 – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merespons hasil survei terbaru yang mencatat elektabilitas partai tersebut berada di angka 2,3 persen. Ketua DPP PSI Bestari Barus mengatakan angka elektabilitas rendah dalam sebuah survei merupakan kondisi yang pernah dialami berbagai partai politik, termasuk partai yang saat ini berada di parlemen. Menurutnya, hasil tersebut akan dijadikan sebagai informasi dan bahan evaluasi bagi PSI. Partai tetap mencermati perkembangan dukungan masyarakat menjelang agenda politik berikutnya. Bestari menegaskan PSI masih optimistis dapat meningkatkan elektabilitasnya.
Survei tersebut dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan metode stratified multistage random sampling. Tingkat kepercayaan survei ditetapkan sebesar 95 persen dengan margin of error sekitar 2,9 persen. Dalam simulasi surat suara partai politik, PSI memperoleh elektabilitas sebesar 2,3 persen. Hasil survei merupakan gambaran preferensi responden pada periode ketika pengumpulan data dilakukan.
Bestari mengatakan PSI menerima hasil tersebut sebagai salah satu masukan untuk melihat posisi partai di tengah masyarakat. Ia menilai setiap lembaga survei dapat menggunakan pendekatan dan metode yang berbeda sehingga hasil pengukuran elektabilitas juga dapat bervariasi. Karena itu, PSI tidak menjadikan satu hasil survei sebagai satu-satunya ukuran dalam menentukan kondisi dukungan terhadap partai. Partai juga memiliki pengukuran internal yang digunakan sebagai bahan evaluasi. Namun, hasil pengukuran internal tersebut belum dipublikasikan kepada masyarakat.
Bestari turut mengungkapkan bahwa Dewan Pembina PSI Joko Widodo mendapatkan pembaruan dari berbagai hasil survei mengenai perkembangan elektabilitas partai. Menurutnya, angka yang muncul dari sejumlah survei tidak selalu sama. Perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan PSI memilih melihat berbagai data sebelum melakukan evaluasi lebih lanjut. Hasil survei eksternal tetap diperhatikan sebagai gambaran mengenai persepsi masyarakat pada periode tertentu. PSI kemudian dapat menggunakan informasi tersebut untuk menentukan langkah politik dan program yang akan dijalankan.
Dalam survei yang sama, Gerindra memperoleh elektabilitas 23,2 persen, sementara PDI Perjuangan berada di angka 11,6 persen dan Golkar 10,4 persen. PKB tercatat memperoleh 6,2 persen dan Partai Demokrat 6,1 persen, sedangkan NasDem berada di angka 4,4 persen. PAN dan PKS masing-masing memperoleh 3,4 persen dan 3,3 persen. PSI berada di angka 2,3 persen, sedangkan PPP tercatat 1,9 persen. Sebanyak 25,3 persen responden belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.
Angka 2,3 persen membuat PSI masih menghadapi tantangan untuk memperluas dukungan apabila ingin meningkatkan perolehan suara pada pemilu berikutnya. Namun, hasil survei tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai hasil pemilu karena preferensi pemilih masih dapat berubah. Dinamika politik, program partai, kinerja kader, serta kemampuan menjangkau kelompok pemilih dapat memengaruhi perkembangan dukungan dalam beberapa tahun mendatang. PSI masih memiliki waktu untuk melakukan konsolidasi dan memperluas basis dukungan sebelum Pemilu 2029. Bestari menyatakan optimisme partainya tetap terjaga meskipun hasil survei terbaru menunjukkan angka 2,3 persen.
PSI selanjutnya akan menjadikan berbagai hasil survei sebagai bagian dari evaluasi untuk melihat kekuatan dan tantangan partai. Konsolidasi organisasi dan komunikasi dengan masyarakat menjadi faktor yang dapat memengaruhi perkembangan elektabilitas dalam jangka panjang. Survei juga hanya menggambarkan kondisi pada saat pengumpulan data sehingga perubahan preferensi masyarakat masih sangat mungkin terjadi. PSI menyatakan akan terus menjalankan agenda politik dan memperkuat kerja organisasi untuk meningkatkan dukungan. Perkembangan elektabilitas partai akan kembali terlihat melalui pengukuran berikutnya menjelang tahapan Pemilu 2029.






