Serang, 29 Agustus 2026 – Kebakaran kembali terjadi di tempat pembuangan akhir (TPA) liar yang berada di Kampung Pranje, Desa Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten. Petugas pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Serang menghadapi kendala dalam proses pemadaman karena titik api berada jauh di dalam timbunan sampah. Kondisi tersebut membuat api sulit dijangkau meskipun petugas telah melakukan upaya pemadaman sejak kebakaran diketahui. Untuk mengatasi persoalan tersebut, petugas membutuhkan alat berat yang dapat digunakan untuk mengurai dan membongkar tumpukan sampah hingga mencapai sumber api.
Call Center Pusdalops BPBD Kabupaten Serang menyebut titik api berada pada kedalaman sekitar 3 hingga 7 meter di dalam timbunan sampah. Kondisi itu membuat penyemprotan air dari permukaan belum cukup untuk memastikan seluruh sumber api benar-benar padam. Petugas perlu membuka bagian timbunan yang terbakar agar air dapat diarahkan langsung ke titik panas yang berada di bawah permukaan. Proses tersebut membutuhkan alat berat karena volume dan ketebalan timbunan sampah cukup besar serta tidak memungkinkan untuk dibongkar secara manual oleh personel pemadam.
Kendala lainnya adalah akses terhadap sumber air di sekitar lokasi yang cukup sulit. Keterbatasan tersebut membuat petugas harus mempertimbangkan penggunaan sumber daya secara efektif selama proses pemadaman berlangsung. Di tengah kondisi itu, jumlah unit yang tersedia juga terbatas sehingga personel Damkar untuk sementara ditarik dari lokasi. Penarikan tersebut dilakukan bukan berarti penanganan dihentikan sepenuhnya, melainkan karena kondisi lapangan membutuhkan peralatan khusus untuk menjangkau sumber api yang tersembunyi di bawah timbunan sampah.
Kebakaran pertama kali diketahui warga pada Jumat, 28 Agustus 2026 sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, warga yang pulang setelah mencari rumput melihat api sudah menjalar cukup besar di kawasan tersebut. Laporan mengenai kejadian kemudian diteruskan kepada aparat kepolisian setempat. Personel Polsek Waringinkurung langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan sekaligus membantu mengamankan area sekitar. Api kemudian berusaha dikendalikan bersama petugas pemadam kebakaran yang dikerahkan ke lokasi.
Lokasi yang terbakar diketahui merupakan lahan bekas galian bata yang kemudian digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Sampah yang masuk ke area tersebut selama ini ditumpuk dan apabila sudah penuh kemudian ditutup menggunakan tanah. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian material sampah berada di bawah permukaan dan sulit diketahui ketika terjadi pembakaran. Ketika api muncul di bagian dalam timbunan, proses pemadaman menjadi jauh lebih rumit karena petugas harus terlebih dahulu membongkar lapisan di atasnya untuk menemukan titik panas.
Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, asap putih masih terlihat mengepul dari sejumlah bagian timbunan sampah. Kobaran api juga masih muncul di beberapa titik sehingga kebakaran belum dapat dinyatakan padam sepenuhnya. Petugas kepolisian masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lokasi. Pengawasan diperlukan untuk memastikan api tidak meluas ke bagian lain, terutama apabila terdapat material mudah terbakar yang masih berada di sekitar area tersebut.
Kesulitan memadamkan kebakaran di dalam timbunan sampah merupakan persoalan yang berbeda dibandingkan kebakaran pada lahan terbuka. Api dapat menjalar melalui lapisan material di bawah permukaan dan tetap menyimpan panas meskipun bagian atasnya terlihat telah padam. Jika titik panas tidak berhasil ditemukan dan didinginkan secara menyeluruh, api berpotensi kembali muncul setelah beberapa waktu. Karena itu, pembongkaran timbunan menggunakan alat berat menjadi salah satu langkah penting untuk membuka akses menuju bagian yang terbakar dan memastikan proses pendinginan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Keberadaan tumpukan sampah yang berada di bawah lapisan tanah juga dapat membuat asap terus muncul meskipun kobaran api dari permukaan tidak terlalu besar. Asap tersebut menjadi tanda bahwa proses pembakaran masih berlangsung di bagian tertentu. Kondisi seperti ini membutuhkan pemantauan secara berkala karena arah penyebaran asap dapat berubah mengikuti kondisi angin. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan juga perlu memperhatikan kondisi udara dan menghindari aktivitas yang tidak diperlukan di dekat lokasi kebakaran selama proses penanganan masih berlangsung.
Selain aspek pemadaman, keberadaan TPA liar tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih tertata. Tempat pembuangan yang tidak dikelola dengan sistem yang memadai dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai persoalan, termasuk kebakaran. Tumpukan sampah dalam jumlah besar juga dapat menyulitkan proses penanganan apabila terjadi kebakaran karena sumber api dapat berada di bagian dalam. Pengelolaan sampah yang baik perlu mencakup pemilahan, pengurangan timbunan, pengolahan, serta pengawasan terhadap lokasi pembuangan agar risiko terhadap lingkungan dan masyarakat dapat ditekan.
Untuk sementara, kondisi di TPA liar Waringinkurung masih dipantau aparat kepolisian sembari menunggu kebutuhan alat berat untuk mendukung penanganan. Penyebab kebakaran sendiri belum diketahui dan masih menjadi perhatian dalam penanganan kejadian tersebut. Petugas perlu memastikan sumber api benar-benar berhasil dipadamkan agar tidak kembali membesar setelah penanganan awal selesai. Dengan dukungan alat berat, pembongkaran timbunan, serta pasokan air yang memadai, proses pemadaman diharapkan dapat dilakukan lebih efektif sehingga asap dan api yang masih terlihat di kawasan tersebut segera dapat dikendalikan.




