Jakarta, 7 September 2026 – Perempuan Indonesia ternyata memiliki karakteristik keluhan yang cukup khas ketika memasuki masa transisi menuju menopause atau perimenopause. Menopause coaching specialist sekaligus ahli gizi bersertifikat MNU Alvina Olivia mengungkapkan sensasi panas mendadak atau hot flushes yang selama ini identik dengan menopause justru relatif jarang dilaporkan perempuan Indonesia. Sebaliknya, keluhan berupa nyeri dan pegal pada tubuh serta persendian jauh lebih dominan. Kondisi tersebut kerap tidak disadari sebagai bagian dari perubahan hormonal karena dianggap sebagai efek bertambahnya usia, kelelahan, atau kondisi tubuh yang kurang fit. Akibatnya, sebagian perempuan dapat menjalani masa perimenopause tanpa memahami penyebab berbagai perubahan yang sedang terjadi pada tubuhnya. Peningkatan pemahaman mengenai gejala menjadi penting agar perempuan dapat mengenali fase tersebut dan memperoleh penanganan yang sesuai ketika keluhan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Alvina menjelaskan perimenopause dapat dimulai jauh sebelum seorang perempuan benar-benar berhenti mengalami menstruasi. Fase transisi tersebut bahkan dapat berlangsung hingga sekitar 10 tahun sebelum menopause terjadi. Sebagai gambaran, perempuan yang memasuki menopause pada usia sekitar 49 tahun mungkin sudah mengalami perubahan hormonal sejak usia sekitar 39 tahun. Karena itu, perimenopause tidak selalu identik dengan usia yang dianggap sudah tua. Perubahan pada tubuh dapat mulai terasa ketika perempuan masih aktif bekerja, mengurus keluarga, maupun menjalankan berbagai aktivitas lainnya. Gejala yang muncul juga tidak selalu sama pada setiap individu sehingga pengenalan terhadap perubahan tubuh menjadi salah satu hal yang penting.
Karakteristik perempuan Indonesia tersebut antara lain terlihat dari temuan Pan-Asia Menopause Study yang melibatkan 1.028 perempuan pascamenopause dari 11 negara dan wilayah serta mencakup sembilan kelompok etnis. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 18 jenis gejala dicatat untuk melihat variasi pengalaman menopause pada perempuan Asia. Hasil yang disampaikan Alvina menunjukkan hanya sekitar 5 persen perempuan Indonesia yang melaporkan mengalami hot flushes. Angka tersebut menarik karena sensasi panas mendadak selama ini merupakan salah satu gejala yang paling sering diasosiasikan dengan menopause. Namun, rendahnya laporan hot flushes tidak berarti perempuan Indonesia mengalami masa transisi tanpa keluhan. Manifestasi yang muncul justru lebih banyak terlihat melalui gangguan pada tubuh dan persendian.
Sekitar 93 persen perempuan Indonesia dalam temuan tersebut dilaporkan mengalami nyeri atau pegal pada tubuh dan persendian. Selain itu, sekitar 52 persen mengeluhkan gangguan tidur selama melalui perubahan terkait menopause. Dua kondisi tersebut mudah dianggap sebagai masalah kesehatan umum karena dapat muncul akibat banyak faktor lain. Pegal pada tubuh sering dikaitkan dengan aktivitas yang terlalu padat, kelelahan, atau pertambahan usia, sementara kesulitan tidur dapat dianggap sebagai akibat stres dan beban pekerjaan. Di Indonesia, sebagian keluhan bahkan kerap dipersepsikan sebagai masuk angin sehingga ditangani secara sederhana tanpa menghubungkannya dengan perubahan hormonal. Situasi tersebut membuat tanda perimenopause berpotensi terlambat dikenali oleh perempuan maupun orang-orang di sekitarnya.
Perimenopause sendiri merupakan proses biologis alami yang berkaitan dengan perubahan fungsi ovarium dan fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon estrogen tidak hanya berkaitan dengan menstruasi dan sistem reproduksi, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap berbagai jaringan dan fungsi tubuh. Perubahan kadar hormon tersebut dapat berhubungan dengan kondisi tulang, otot, distribusi lemak, pengaturan suhu tubuh, serta sejumlah fungsi lainnya. Pada fase perimenopause, kadar estrogen tidak selalu turun secara lurus dan stabil dari waktu ke waktu. Salah satu bentuk estrogen yang dominan, estradiol, dapat mengalami fluktuasi sehingga kadarnya berubah cukup besar dalam periode tertentu. Pola perubahan inilah yang ikut membuat pengalaman perimenopause berbeda antara satu perempuan dan perempuan lainnya.
Fluktuasi hormon juga dapat memunculkan perubahan yang tidak selalu terlihat secara langsung dari luar. Sebagian perempuan mengalami brain fog atau kondisi ketika konsentrasi dan daya ingat terasa menurun dibandingkan biasanya. Seseorang dapat tiba-tiba lupa terhadap sesuatu yang hendak dilakukan, sulit mempertahankan fokus, atau merasa membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat informasi tertentu. Perubahan suasana hati juga dapat terjadi dengan intensitas yang berbeda-beda, mulai dari lebih mudah tersinggung hingga mengalami mood swing yang terasa lebih ekstrem. Gangguan tidur kemudian dapat memperberat rasa lelah dan kesulitan berkonsentrasi pada siang hari. Kombinasi berbagai keluhan tersebut dapat membuat sebagian perempuan merasa kondisi fisik maupun emosionalnya berbeda dari beberapa tahun sebelumnya.
Perubahan distribusi lemak tubuh turut menjadi salah satu kondisi yang dapat muncul selama transisi menopause. Alvina menyebut penumpukan lemak di sekitar pinggang dan perut sebagai salah satu perubahan yang perlu dikenali. Perubahan tersebut tidak semata-mata dapat dijelaskan oleh faktor usia karena perubahan hormonal, aktivitas fisik, pola makan, kualitas tidur, dan faktor metabolik dapat saling berhubungan. Karena itu, perempuan tidak dianjurkan langsung menyimpulkan setiap kenaikan berat badan sebagai akibat menopause. Evaluasi kondisi tubuh secara menyeluruh tetap diperlukan, terutama apabila perubahan terjadi cukup cepat atau disertai keluhan lainnya. Pendekatan yang tepat juga membantu perempuan menentukan perubahan gaya hidup yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.
Kementerian Kesehatan menjelaskan masa perimenopause dapat berlangsung selama beberapa tahun sebelum menstruasi berhenti secara permanen. Selain perubahan siklus menstruasi, keluhan yang dapat muncul meliputi gangguan tidur, perubahan suasana hati, kulit lebih kering, perubahan berat badan, penurunan gairah seksual, kekeringan pada vagina, jantung berdebar, hingga sensasi panas dan berkeringat. Namun, tingkat keparahan dan kombinasi gejalanya dapat berbeda pada setiap perempuan. Tidak semua orang akan mengalami seluruh keluhan tersebut dan pengalaman seorang perempuan tidak dapat digunakan sebagai patokan mutlak bagi perempuan lainnya. Kondisi kesehatan sebelumnya, gaya hidup, usia, dan berbagai faktor individual turut memengaruhi perjalanan transisi menopause. Karena itu, memahami pola perubahan tubuh sendiri menjadi langkah yang lebih bermanfaat dibandingkan hanya membandingkan gejala dengan orang lain.
Perempuan yang mulai mencurigai dirinya memasuki perimenopause dapat mencatat perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Catatan mengenai siklus menstruasi, kualitas tidur, perubahan suasana hati, nyeri tubuh, hot flushes, konsentrasi, maupun perubahan fisik dapat membantu memberikan gambaran ketika melakukan konsultasi. Alvina juga mendorong perempuan membicarakan kondisi yang dialaminya dengan pasangan, keluarga, atau orang terdekat sehingga perubahan tersebut tidak harus dihadapi sendirian. Dukungan dari lingkungan dapat membantu mengurangi kebingungan ketika keluhan muncul secara bergantian dan sulit dikenali penyebabnya. Apabila gejala mulai mengganggu aktivitas atau kualitas hidup, konsultasi dengan tenaga medis yang memahami kesehatan menopause menjadi langkah yang disarankan. Pemeriksaan diperlukan karena sejumlah gejala perimenopause juga dapat menyerupai kondisi kesehatan lain sehingga diagnosis tidak sebaiknya dilakukan sendiri.
Pemahaman mengenai karakteristik perimenopause pada perempuan Indonesia pada akhirnya menjadi penting karena gejala yang paling dominan tidak selalu sesuai dengan gambaran menopause yang populer selama ini. Rendahnya laporan hot flushes dibandingkan tingginya keluhan nyeri tubuh dan persendian menunjukkan pengalaman menopause dapat berbeda menurut populasi maupun individu. Gangguan tidur, perubahan suasana hati, brain fog, serta perubahan komposisi tubuh juga dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Mengenali tanda-tanda sejak awal memberikan kesempatan kepada perempuan untuk melakukan penyesuaian gaya hidup dan mencari bantuan profesional apabila diperlukan. Perimenopause merupakan fase alami kehidupan, tetapi keluhan yang muncul tetap layak mendapatkan perhatian ketika memengaruhi kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Edukasi yang lebih luas diharapkan membuat perempuan Indonesia semakin mampu memahami perubahan tubuhnya tanpa menganggap seluruh keluhan semata-mata sebagai konsekuensi biasa dari bertambahnya usia.





