Jakarta, 3 September 2026 – Harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamina mengalami kenaikan pada awal September 2026. Penyesuaian yang berlaku sejak 1 September 2026 tersebut masih menjadi harga yang berlaku hingga Kamis, 3 September 2026. Tiga produk yang mengalami kenaikan adalah Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sedangkan Pertamax serta Pertamax Green 95 tidak mengalami perubahan. Untuk wilayah DKI Jakarta dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa, Pertamax Turbo kini dibanderol Rp19.600 per liter, naik dari sebelumnya Rp18.300 per liter. Dexlite melonjak dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sementara Pertamina Dex naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Adapun BBM subsidi Pertalite dan Biosolar juga tetap berada pada harga sebelumnya.
Pertamina Patra Niaga menjelaskan penyesuaian hanya dilakukan terhadap sebagian produk BBM nonsubsidi. Penentuan harga mengacu pada formula yang telah ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan sejumlah indikator yang memengaruhi keekonomian bahan bakar. Perkembangan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan bersama perubahan nilai tukar rupiah dan komponen pajak. Pertamina juga mempertimbangkan faktor relevan lainnya, termasuk kemampuan daya beli masyarakat pengguna produk tersebut. Pertimbangan tersebut membuat tidak semua jenis BBM mengalami perubahan harga pada periode yang sama. Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 dipertahankan agar tidak mengalami penyesuaian pada awal September.
Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, harga Pertamax tetap Rp15.950 per liter. Pertamax Green 95 yang tersedia di sejumlah wilayah juga bertahan pada Rp16.600 per liter. Sementara itu, kenaikan terbesar secara nominal terjadi pada Pertamina Dex yang bertambah Rp4.050 per liter dari Rp21.150 menjadi Rp25.200. Dexlite mengalami kenaikan Rp4.000 per liter sehingga kini berada pada Rp23.700. Pertamax Turbo mengalami kenaikan lebih kecil, yakni Rp1.300 per liter menjadi Rp19.600. Perbedaan tersebut membuat pengguna kendaraan diesel menghadapi kenaikan biaya pengisian yang lebih besar dibandingkan konsumen Pertamax Turbo.
Harga Pertalite tidak mengalami perubahan dan masih dipatok Rp10.000 per liter. Biosolar subsidi juga tetap dijual Rp6.800 per liter sesuai kebijakan yang berlaku. Tidak berubahnya dua produk tersebut membuat penyesuaian awal September terutama berdampak kepada konsumen BBM nonsubsidi beroktan maupun bercetane tinggi. Pertamina meminta masyarakat membeli bahan bakar sesuai kebutuhan dan memilih produk berdasarkan spesifikasi mesin kendaraan. Pemilihan jenis BBM yang tepat dibutuhkan agar performa mesin dan proses pembakaran dapat berjalan sesuai rekomendasi produsen kendaraan. Konsumen juga perlu memperhatikan bahwa harga BBM nonsubsidi tidak selalu sama di seluruh Indonesia karena terdapat perbedaan komponen pajak dan karakteristik wilayah.
Perbedaan harga tersebut terlihat di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera. Di Aceh dan Sumatera Utara, misalnya, Pertamax dipatok Rp16.300 per liter, Pertamax Turbo Rp20.000, Dexlite Rp24.200, dan Pertamina Dex Rp25.750. Harga serupa berlaku di sejumlah daerah seperti Jambi dan Bengkulu. Sementara Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau memiliki harga lebih tinggi dengan Pertamax sebesar Rp16.650, Pertamax Turbo Rp20.450, Dexlite Rp24.750, serta Pertamina Dex Rp26.300 per liter. Dengan demikian, Pertamina Dex di sejumlah wilayah tersebut telah menembus harga lebih dari Rp26.000 per liter. Konsumen perlu melihat harga berdasarkan provinsi karena daftar nasional memiliki beberapa kelompok harga yang berbeda.
Kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone memiliki struktur harga tersendiri. Di FTZ Batam, Pertamax berada pada Rp15.150 per liter dan Pertamax Turbo Rp18.550 per liter. Dexlite dipasarkan Rp22.500, sedangkan Pertamina Dex berada pada Rp23.950 per liter. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi lain karena terdapat perlakuan perpajakan yang berbeda di kawasan perdagangan bebas. Sementara di FTZ Sabang, pilihan produk dan struktur harganya juga berbeda dari wilayah reguler. Perbedaan ini membuat daftar harga nasional tidak dapat disamaratakan hanya berdasarkan harga yang berlaku di Jakarta.
Untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, harga sejumlah produk mengikuti kelompok harga yang sama dengan Pulau Jawa. Pertamax berada pada Rp15.950 per liter, Pertamax Turbo Rp19.600, Dexlite Rp23.700, dan Pertamina Dex Rp25.200. Sementara di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Timur, Pertamax dibanderol Rp16.300 dan Pertamax Turbo Rp20.000 per liter. Dexlite pada kelompok wilayah tersebut mencapai Rp24.200 dan Pertamina Dex Rp25.750 per liter. Kalimantan Utara berada pada kelompok harga yang lebih tinggi dengan Pertamax Rp16.650, Pertamax Turbo Rp20.450, Dexlite Rp24.750, serta Pertamina Dex Rp26.300 per liter.
Sejumlah wilayah Sulawesi juga memiliki harga yang berada pada kelompok Rp16.300 untuk Pertamax. Pertamax Turbo di beberapa wilayah dipatok Rp20.000 per liter, Dexlite Rp24.200, dan Pertamina Dex Rp25.750. Struktur tersebut antara lain berlaku di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat. Sementara ketersediaan setiap jenis produk dapat berbeda bergantung pada daerah dan jaringan SPBU. Di Maluku dan Maluku Utara, Pertamax berada pada Rp16.300 dan Dexlite Rp24.200 per liter. Papua juga memiliki Pertamax Rp16.300, Pertamax Turbo Rp20.000, serta Dexlite Rp24.200 per liter pada daftar harga awal September.
Jika dihitung berdasarkan pengisian penuh, kenaikan harga dapat memberikan perbedaan cukup terasa terhadap pengeluaran pengguna kendaraan. Sebagai contoh, pengisian 50 liter Pertamax Turbo di Jakarta kini membutuhkan sekitar Rp980.000, dibandingkan sekitar Rp915.000 berdasarkan harga sebelumnya. Artinya, terdapat tambahan pengeluaran sekitar Rp65.000 untuk volume pengisian yang sama. Pengguna Dexlite dengan volume 50 liter kini membutuhkan sekitar Rp1,185 juta, naik sekitar Rp200.000 dibandingkan harga sebelumnya. Sementara pengisian 50 liter Pertamina Dex mencapai sekitar Rp1,26 juta atau bertambah sekitar Rp202.500. Dampak kenaikan karena itu akan lebih terasa bagi kendaraan dengan kapasitas tangki besar maupun pengguna dengan mobilitas harian tinggi.
Penyesuaian BBM nonsubsidi merupakan kebijakan yang dapat dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan berbagai indikator pembentuk harga. Perubahan minyak mentah internasional dan nilai tukar dapat memengaruhi biaya pengadaan produk, sementara pajak daerah ikut menyebabkan perbedaan harga antardaerah. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex dapat berubah sementara produk lain tetap dipertahankan. Pertamina juga mempertimbangkan kondisi sosial dan kemampuan daya beli sebelum menentukan penyesuaian pada produk tertentu. Harga yang berlaku di SPBU pada akhirnya mengikuti wilayah pemasaran masing-masing. Karena itu, konsumen yang melakukan perjalanan antardaerah dapat menemukan selisih harga meskipun membeli produk BBM yang sama.
Dengan penyesuaian yang masih berlaku per 3 September 2026, harga BBM Pertamina untuk wilayah Jakarta dan sebagian besar Pulau Jawa terdiri atas Pertalite Rp10.000, Biosolar Rp6.800, Pertamax Rp15.950, Pertamax Green 95 Rp16.600, Pertamax Turbo Rp19.600, Dexlite Rp23.700, dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter. Tiga produk terakhir yang mengalami perubahan terbesar dibandingkan periode sebelumnya adalah Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Konsumen kendaraan diesel menjadi kelompok yang menghadapi kenaikan nominal paling tinggi karena Dexlite dan Pertamina Dex naik lebih dari Rp4.000 per liter. Sementara konsumen Pertamax dan Pertamax Green tidak menghadapi kenaikan pada periode awal September. Daftar tersebut tetap perlu disesuaikan dengan wilayah karena harga BBM nonsubsidi Pertamina berbeda di sejumlah provinsi. Perkembangan harga berikutnya akan bergantung pada evaluasi berbagai indikator yang menjadi dasar penetapan harga BBM nonsubsidi.





