Jakarta, 27 Agustus 2026 – Sebanyak 14 bayi baru lahir tewas dalam kebakaran yang melanda ruang perawatan bayi di Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS), Islamabad, Pakistan, pada Rabu pagi, 26 Agustus 2026. Kebakaran terjadi di lantai tiga Mother and Child Health Ward yang merupakan bagian dari rumah sakit pemerintah terbesar di ibu kota Pakistan tersebut. Saat kejadian, terdapat bayi yang sedang mendapatkan perawatan intensif, termasuk menggunakan inkubator dan bantuan oksigen. Hanya satu bayi yang berada di ruang tersebut berhasil diselamatkan. Tragedi tersebut langsung memicu duka mendalam sekaligus pertanyaan mengenai sistem keselamatan kebakaran dan kesiapan evakuasi di fasilitas kesehatan tersebut.
Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 06.45 waktu setempat ketika api muncul di area nursery. Informasi awal dari pihak berwenang menyebutkan adanya masalah pada unit pendingin udara yang diduga menjadi pemicu kebakaran, meskipun penyebab pastinya masih dalam penyelidikan. Api kemudian dengan cepat membesar di ruang perawatan yang memiliki konsentrasi oksigen tinggi karena sebagian bayi membutuhkan bantuan pernapasan. Kondisi tersebut membuat proses penyelamatan menjadi sangat sulit karena bayi yang berada di dalam ruangan tidak dapat dievakuasi secara mandiri. Petugas pemadam kebakaran dan tim penyelamat kemudian berupaya mencapai ruangan melalui akses yang tersedia, termasuk menggunakan tangga untuk menjangkau bagian bangunan yang terdampak.
Situasi di lokasi menjadi semakin memilukan karena keluarga para bayi yang sedang menjalani perawatan berada di sekitar rumah sakit ketika kebakaran terjadi. Sejumlah orang tua dan kerabat berusaha mencari informasi mengenai kondisi anak mereka di tengah kepulan asap dan kepanikan yang terjadi. Proses evakuasi juga menghadapi kendala karena ruangan nursery berada di lantai atas dan bayi-bayi yang berada di dalamnya membutuhkan peralatan medis untuk mempertahankan kondisi mereka. Petugas akhirnya berhasil mengendalikan api agar tidak menyebar ke bagian rumah sakit lainnya. Meskipun demikian, dampak kebakaran di ruang perawatan bayi tersebut sangat besar karena sebagian besar bayi yang berada di dalam ruangan tidak berhasil diselamatkan.
Pemerintah Pakistan kemudian memerintahkan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui penyebab kebakaran sekaligus mengevaluasi prosedur keselamatan di rumah sakit. Perdana Menteri Shehbaz Sharif meminta hasil awal penyelidikan segera disampaikan dan menekankan perlunya pertanggungjawaban apabila ditemukan kelalaian. Pemerintah juga mengambil langkah administratif terhadap pejabat terkait sebagai bagian dari respons terhadap tragedi tersebut. Tim penyelidik ditugaskan memeriksa kondisi instalasi listrik, sistem pendingin udara, fasilitas pemadam kebakaran, jalur evakuasi, serta prosedur tanggap darurat yang diterapkan rumah sakit. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai rangkaian kejadian yang menyebabkan kebakaran berkembang begitu cepat hingga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Tragedi tersebut juga memunculkan sorotan terhadap kondisi keselamatan fasilitas kesehatan di Pakistan. Rumah sakit pemerintah di negara tersebut selama bertahun-tahun menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan sumber daya, tingginya jumlah pasien, serta kebutuhan pemeliharaan infrastruktur yang tidak selalu mudah dipenuhi. Dalam fasilitas yang merawat bayi baru lahir secara intensif, sistem keselamatan memiliki peran yang sangat penting karena pasien tidak mampu menyelamatkan diri ketika terjadi keadaan darurat. Ketersediaan alat pemadam, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta prosedur pemindahan pasien harus berjalan secara terintegrasi. Karena itu, penyelidikan terhadap insiden di PIMS tidak hanya diarahkan untuk mencari penyebab api, tetapi juga menilai apakah seluruh sistem keselamatan telah memenuhi standar yang seharusnya.
Kondisi ruang perawatan bayi menjadi perhatian khusus dalam penyelidikan karena keberadaan oksigen dan perangkat medis dapat mempercepat dampak kebakaran. Bayi yang dirawat di unit neonatal juga memiliki kondisi yang sangat rentan sehingga proses evakuasi membutuhkan tenaga medis dan peralatan khusus. Setiap keterlambatan dapat meningkatkan risiko karena pemindahan bayi harus dilakukan dengan tetap mempertahankan dukungan medis yang diperlukan. Dalam situasi kebakaran, petugas harus menghadapi kombinasi antara asap, panas, keterbatasan akses, serta kebutuhan untuk membawa pasien yang tidak dapat bergerak sendiri. Oleh sebab itu, prosedur tanggap darurat di fasilitas neonatal harus dipersiapkan secara khusus dan diuji secara berkala untuk memastikan seluruh petugas memahami tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.
Kabar meninggalnya 14 bayi tersebut kemudian menimbulkan duka dan kemarahan di kalangan keluarga korban serta masyarakat Pakistan. Perhatian publik tidak hanya tertuju pada penyebab kebakaran, tetapi juga pada pertanyaan mengenai apakah tragedi tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui sistem keselamatan yang lebih baik. Pemerintah menghadapi tuntutan untuk memberikan penjelasan secara transparan mengenai kronologi kejadian dan hasil pemeriksaan terhadap fasilitas rumah sakit. Pemeriksaan terhadap rumah sakit lain juga dinilai penting agar potensi persoalan serupa dapat diketahui sebelum menimbulkan korban. Evaluasi tersebut terutama diperlukan pada ruang perawatan bayi, ruang operasi, unit perawatan intensif, dan fasilitas lain yang menampung pasien dengan tingkat ketergantungan medis tinggi.
Penyelidikan yang dilakukan pemerintah kini menjadi tahap penting untuk mengungkap secara lengkap bagaimana kebakaran bermula, seberapa cepat api menyebar, serta apakah terdapat kelemahan dalam sistem keselamatan dan evakuasi. Hasil pemeriksaan juga diharapkan dapat menentukan pihak yang bertanggung jawab apabila ditemukan pelanggaran prosedur atau kelalaian. Bagi keluarga korban, kepastian mengenai penyebab tragedi menjadi hal penting di tengah kehilangan besar yang mereka alami. Sementara bagi pemerintah, peristiwa tersebut menjadi dorongan untuk memperketat standar keselamatan di fasilitas kesehatan agar kejadian serupa tidak terulang. Kebakaran di PIMS bukan hanya meninggalkan duka mendalam karena hilangnya 14 bayi baru lahir, tetapi juga menjadi peringatan serius mengenai pentingnya sistem perlindungan pasien yang kuat, terutama bagi kelompok paling rentan di dalam fasilitas medis.




